Gadgetholic – Indonesia memasuki fase baru ekonomi digital dengan proyeksi nilai mencapai USD 340 miliar pada 2030. Pertumbuhan ini didorong oleh adopsi AI, cloud, IoT, fintech, dan digitalisasi lintas industri, namun juga meningkatkan risiko dan kompleksitas ancaman siber.


Melihat kondisi tersebut, melalui Indosat Business meluncurkan whitepaper “A Business-Centric Framework for Enterprise Cyber-Resilience” bersama pakar cybersecurity . Whitepaper ini membahas fenomena “resilience gap”, yaitu ketimpangan antara cepatnya transformasi digital dan kesiapan organisasi dalam membangun ketahanan siber.


Director & Chief Business Officer Indosat Ooredoo Hutchison, mengatakan bahwa cyber resilience kini menjadi fondasi penting bagi kepercayaan dan keberlangsungan bisnis, bukan sekadar isu teknologi.


Whitepaper tersebut juga menyoroti meningkatnya ancaman AI-enabled fraud dan deepfake di Indonesia, termasuk lonjakan fraud berbasis AI hingga 1.550% di sektor fintech. Sementara itu, Cisco Cybersecurity Readiness Index 2025 mencatat hanya 11% organisasi di Indonesia yang siap menghadapi ancaman siber modern, dengan potensi kerugian kebocoran data mencapai sekitar Rp15 miliar.


Selain membahas strategi seperti Zero Trust Architecture dan Human Firewall, whitepaper ini mengulas tantangan keamanan siber di sektor finansial, manufaktur, pemerintahan, dan pendidikan yang semakin terdampak percepatan digitalisasi.


Melalui inisiatif ini, Indosat Business ingin mendorong perusahaan di Indonesia menjadikan ketahanan siber sebagai bagian penting dari strategi transformasi digital dan daya saing bisnis jangka panjang.